Beberapa bulan belakangan saya punya kegiatan yang lumayan bikin saya pusing dan jadi malas mengerjakan kegiatan saya yang lain. Kegiatan saya itu yaitu mengerjakan Tugas Akhir atau bahasa bakunya Skripsi. Dalam sehari si Mas mewajibkan saya belajar minimal 3 jam, nggak boleh kurang. Awalnya (bahkan sampai sekarang), saya suka ngomel dalam hati kenapa si Mas tega menyiksa saya seperti itu. Bagi saya 3 jam belajar adalah sebuah penyiksaan luar biasa. Karena saya selalu nggak konsen belajar saat hati saya sedang tidak mood untuk belajar. Tapi kalau saya sedang mood dan semangat-semangatnya belajar saya sanggup lebih dari 3 jam harus menghadapi laptop.
Bulan kedua – memasuki ketiga, penyiksaan itu mulai kelihatan hasilnya. Tugas Akhir saya sudah 80% selesai. Mau nggak mau untuk kesekian kalinya saya harus mengakui kalau penyiksaan Mas lebih banyak memberikan keuntungan pada akhirnya (sebelumnya penyiksaan terjadi selama saya kuliah, si Mas mengharuskan saya mengerjakan tugas, bisa atau nggak bisa harus dikumpul). Dan untuk kesekian kalinya saya harus berterimakasih sama si Mas. Kalau nggak ada si Mas, mungkin saya sampai sekarang belum ngambil Tugas Akhir dan masih keteteran ngulang. Walau dengan IP yang kurang memuaskan, Insyaallah kalau lulus, saya bakal lulus tepat 4 tahun. Ini semua berkat si Mas. Thanx yo, Mas!
Saya nggak tahu juga sebenarnya cara ini efektif nggak buat yang lain. Karena kalau nggak tahan banting seperti saya, mungkin Tugas Akhirnya nggak bakal selesai juga, yang ada malah bertengkar nggak selesai-selesai. Untungnya, walaupun saya juga suka perang dengan si Mas, paling 1-2 hari kita pasti baikan.
Saya jadi ingat sewaktu saya SD, wali kelas saya dulu namanya Pak Tumanggor, kebetulan beliau adalah guru baru pindahan dari Sumatra Utara. Beliau wali kelas saya dari kelas 5 sampai kelas 6. Selama 2 tahun menjadi murid beliau, jujur saya merasa tersiksa dan selalu jadi malas sekolah. Bayangkan saja, banyak sekali peraturan yang harus saya ikuti. Antara lain, harus mengerjakan pe-er dan dikumpulkan besoknya nggak peduli kalau besok itu nggak ada mata pelajaran pe-er tersebut kalau lupa bawa pe-er siswa wajib menulis “Saya tidak akan lupa mengerjakan pr lagi” sebanyak 1 buku!! Sepanjang jam pelajaran, bagi siswa yang ulangan, latihan, dan pe-ernya dapat nilai di bawah 50 maka siswa yang nilainya di atas 50 berhak menarik rambut di dekat telinga sekuat-kuatnya (kalau perlu sampai tercabut), setiap hari ada saja yang namanya tugas menghapal, mulai dari menghapal perkalian, pembagian, undang-undang, ayat-ayat dsb. Itu semua penyiksaan yang masih saya ingat, seingat saya masih banyak lagi penyiksaan-penyiksaan yang lain.
Selama 2 tahun saya bertahan lho, bahkan saya jadi murid kesayangan Pak Tumanggor, saya sering dapat rangking yang lumayan bagus, saya juga dekat sekali dengan beliau (bahkan saking dekatnya saya sempat dituduh teman – yang sampai hari ini saya belum tahu siapa orangnya, kalau saya nyogok dan cari muka Pak Tumanggor). Kalau saya pikir-pikir, walaupun menurut sebagian orang cara itu dianggap melewati batas, bagi saya justru itu membantu saya sekali, buktinya saya jadi pintar waktu itu (saya sempat dikirim untuk mewakili sekolah untuk kompetisi Murid Teladan, tapi nggak lolos sih). Dan teman-teman saya juga banyak sekali yang pintar karena cara mengajar beliau yang tegas dan agak kejam itu. Bukti lainnya juga bahwa dengan cara yang seperti itu, siswa-siswa jadi hormat sama gurunya dan nggak kurang ajar.
Tapi sekarang saya lihat di tayangan berita di televisi, banyak orang tua yang tidak terima dengan cara guru mendisiplinkan siswa. Saya juga nggak setuju sih kalau dengan cara kekerasan yang sampai keterlaluan. Tapi saya lebih nggak setuju lagi dengan siswa sekolah sekarang yang kebanyakan manja. Dan baru dibentak sama gurunya langsung lapor orang tua dan ujung-ujungnya sang guru dilaporkan ke pihak kepolisian. Padahal belum tentu juga sang guru salah, bisa saja karena siswanya sudah kelewat ndablek dan kurang ajar, makanya sang guru yang udah nggak tahan akhirnya membentak sang siswa. Saya tahu kalau guru selalu dianggap panutan dan harus mencontohkan yang baik-baik saja ke siswa, tapi guru juga punya batas kesabaran. Sudah gajinya dikit (anggota DPR yang selalu naikin gaji, lihat dong banyak guru-guru, guru honorer yang harus kerja keras tapi gajinya nggak naik-naik), siswa pada nakal-nakal dan pada kurang diajar.
Intinya kadang-kadang ‘penyiksaan’, ‘kekerasan’, disiplin kalau tidak kelewat batas bisa membuat semuanya jadi lebih baik. Kalau semua manusia nggak ada yang ngatur, nggak ada yang mendisiplinkan, kehidupan ini bakal kacau balau.
Belum Ada Tanggapan
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar
